Posted by: yudomahendro | March 30, 2012

Membahas Teori Pertukaran, Teori Jaringan, Serta Teori Pilihan Rasional

Ketiga teori ini dibahas oleh Ritzer Sociological Theory (2011) dalam satu bab yang sama dengan alasan adanya keter kaitan yang erat satu sama lainya. Dalam pembahasan awal diketahui bahwa ketiga teori ini cukup kuat dipengaruhi oleh psikologi, terutama behavorialisme. Sebagaimana teori interaksionalisme simbolik telah dijelaskan minggu yang lalu, ketiga teori ini menekankan pada relasi mikro dan makro, walaupun setiap teori dan teroritis memiliki tekanan  yang berbeda satu sama lainnya. Dalam melihat ketiga teori ini, penting juga untuk melihat interaksi sosial yang dimaknai secara sadar oleh individu sebagai elemen utama dari bangunan teori ini. Teori pertukaran (exchange theory) menekankan pada manusia sebagai rational profit, dalam artian setiap individu interaksinya diorientasikan untuk mendapatkan keuntungan. Sedangkan teori jaringan (network theory) melihat manusia memiliki jejaring interaksi karena adanya kesamaan norma dan nilai, karena adanya proses sosialisasi dari stuktur sosial. Pada sisi yang lain, teori pilihan rasional (rational choice theory) menekankan bahwa individu lebih tepat dipadankan sebagai homo economicus dari pada homo sociologicus, karena setiap orang selalu mencari cara untuk memperoleh kepentingannya untuk mendapatkan sumberdaya.

Teori Pertukaran: Menilik Homans, Blau, dan Emerson

Orang pertama yang memulai studi tentang teori pertukaran adalah Homans. Dalam membangun teori ini ia menyandarkan analisanya pada teori behavorialisme sosial yang menekankan bahwa sikap manusia dalam keseharian merupakan respon atas impuls yang diberikan oleh lingkungan secara berulang ulang. Namun, walaupun begitu, Homans tidak setuju secara penuh atas pemikiran tersebut, menurut Homans, manusia memiliki daya nalar yang akhirnya dapat memberikan pertimbangan-pertimbangan atas sikap-sikapnya selanjutnya. Juga ia melihat pengaruh norma sosial sebagai penghambat atas tindakan sosial seseorang

Atas dasar itulah, manusia menggunakan pengalaman-pengalamannya untuk memiliki sikapnya dalam merespon sesuatu yang ada di dalam dunia sosial. Dalam hal ini Homans banyak memberikan contoh mengenai proposisi-proposisi dari interaksi antar manusia dan ia pun menjelaskan mengenai pentingnya pengalaman memberikan petunjuk bagi manusia untuk mengulanginya lagi. Menurut Homans, bahwa pengulangan tindakan manusia merupakan respon empirik terhadap hasil yang baik yang telah diterimanya pada masa yang lampau. Sehingga dalam persepsi manusia ia selalu mempertimbangkan antara mana yang menguntungkan dan mana yang tidak, mana yang berpeluang lebih besar mana yang tidak, serta mana yang menyenangkan dan mana yang mengecewakan. Dengan demikian, dapatlah disimpulkan bahwa manusia dalam kehidupannya berupaya untuk selalu mendapatkan hasil yang baik atau keuntungan atas tindakan-tindakan sosialnya.

Namun walaupun begitu, sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa manusia memiliki nalar dibandingkan dengan makhluk lainnya dalam bertindak. Maka Homans memberikan penjelasan mengenai adanya jarak antara tindakan pertama dengan hasil yang diperoleh. Jika manusia mendapatkan apa yang dilakukannya secara reguler maka akan terjadi suatu kebosanan dalam beraktivitas, sedangkan jika kemungkinan atas hasil yang didapatkan  tidak terbayangkan, itulah yang membuat individu memiliki ketertarikan yang lebih untuk bertindak pada masa selanjutnya.

Selanjutnya teoritis pertukaran lainya adalah Blau. Jika Homans, melihat pertukaran terjadi pada ranah antar individual, Blau mencoba mengisi kekosongan antara relasi interaksi antar individual dengan ranah yang lebih makro; masyarakat. Ia mencoba menjelaskan bagaimana kehidupan sosial menjadi terorganisir dan terbentuk dalam stuktur yang kompleks. Ia menawarkan empat tahap dalam mengidentifikasi progres dari tingkat mikro ke ranah makro. Pertama, bagaimana interaksi  dan pertukaran terjadi diantara individu. Dalam hal ini diidentifikasi, siapa mendapat apa dalam relasi tersebut. Kedua, melihat adanya perbedaan status dan kekuatan, berbeda dengan Homans yang seakan-akan tidak memperhatikan adanya perbedaan kekuatan dalam setiap individu, Blau sangat fokus terhadap ini. Tahap ketiga, adalah melihat bagaimana terbentuknya legitimasi dan organisasi yang ada di masyarakat. Legitimasi dan organisasi merupakan bentuk nyata adanya ketidaksamaan kekuatan manusia yang terlembaga di dalam struktur sosial. Selanjutnya, terakhir yang keempat, munculnya oposisi dan perubahan. Puncak dari proses sosial ini adalah adanya perubahan struktur sosial yang diinisiasi oleh para oposan yang tidak puas terhadap sistem sosial yang ada. Dengan demikian, dapat disimpulkan proses tahapan ini merupakan siklus relasi mikro dan makro dalam kehidupan manusia.

Dalam menjelaskan pada ranah mikro, Blau menjelaskan adanya proses “pemberian kridit’’ bagi siapa saja yang dal perjalanan interaksi sosial memberikan hasil yang memuaskan untuk si aktor. Selanjutnya, menurut Blau interaksi sosial terjadi pertama kali dalam kelompok sosial, dalam artian bahwa manusia selalu berada dalam konteks norma dan nilai suatu kelompok. Dengan demikian, untuk bergabung kedalam kelompok sosial tersebut harus ada relasi saling menguntungkan antara kelompok sosial dan juga si calon anggota baru. Pada tahap selanjutnya, ia menjelaskan bagaimana di dalam kelompok sosial tersebut terjadi kompetisi untuk mendapatkan pengakuan sosial dari anggota kelompok. Proses inilah yang memunculkan pemimpin di suatu kelompok sosial. Dengan demikian, si pemimpin (leader) memiliki otortitas yang lebih untuk menerapkan aturan dan juga norma yang berlaku bagi para anggota lainnya (follower). Norma dan nilai yang telah terlegitimasi dalam suatu kelompok sosial itulah yang membentuk atau mengatur relasi-relasi sosial yang terjadi di dalam suatu kelompok.

Kontribusi kepada teori pertukaran selanjutnya diberikan oleh Emerson. Dalam hal ini kekhususan Emerson adalah perhatiannya yang lebih terhadap ketergantungan kekuatan dalam interaksi sosial. Selanjutnya ia menyatakan bahwa relasi sosial dan juga jejaring sosial menjadi dasar dari teori pertukaran yang dikembangkannya. Ia menyadari bahwa setiap interaksi sosial yang dilakukan oleh individu selalu diorientasikan kepada keuntungan, namun karena dalam setiap interaksi tersebut ia mendapatkan kepuasan, maka terjadilah pengurangan kegunaan dari setiap keuntungan yang di dapatkan. Maka terciptalah arus dari keuntungan dalam setiap inteaksi sosial, karena sitiap individu menginginkan adanya pertukaran yang lebih menguntungkan.

Penjelasan lainya yang cukup penting dari Emerson adalah jejaring pertukaran merupakan sebuah spesifik struktur sosial yang dibentuk oleh relasi pertukaran antara dua aktor atau lebih. Dengan adanya ketidakseimbangan kekuatan dalam setiap individu, maka terciptalah suatu sistem sosial yang memberikan reward dan punishment dalam interaksi sosial yang terjadi dalam suatu kelompok sosial tertentu.

 Teori Jaringan

Teori ini berfokus kepada bagaimana kebudayaan dan juga sosialisasi membentuk norma dan nilai dalam suatu kelompok sosial dan pada tahap selanjutnya setiap individu yang menjadi anggotanya terinternalisasi oleh norma dan nilai tersebut. Dalam melihat interaksi atau relasi antar individu, Mizruci sebagai teoritis melihat bahwa terjadinya interaksi tersebut dipengaruhi oleh kuat atau lemahnya suatu relasi sosial antar individu dengan individu lainya. Dalam artian, interaksi akan lebih sering dilakukan oleh seseorang dengan orang yang lain karena adanya kesamaan nilai dan norma dibandingkan dengan individu yang berbeda nilai dan norma. Dengan demikian, munculah kohesi diantara sesama kelompok sosial tertentu yang memiliki kesamaan nilai dan norma.

Dalam pembahasan selanjutnya dijelaskan bagaiman setiap interaksi dilakukan di dalam suatu kelompok sosial pada akhirnya akan membentuk suatu keseimbangan struktrur sosial. Hal inilah yang pada gilirannya membentuk suatu identitas bersama pada suatu kelompok sosial dalam sebuah struktur sosial. Dalam melihat suatu kohesi dalam sebuah kelompok sosial, Mizruchi menjelaskan dapat ditinjau dari dua analisa, yaitu analisa subjektif dan analisa subjektif. Dalam analisa subjektif melihat bahwa kohesi dibutuhkan oleh setiap anggota sebagai identitas bersama. Sedangkan, dalam analisa objektif, melihat solidaritas berada di luar kesadaran manusia, atau dalam bahasa Durkheim, adalah sebagai fakta sosial.

Selanjutnya, Burt juga memberikan sokongan terhadap teori jaringan ini. Ia bertumpu bahwa setiap aktor yang memiliki tujuan-tujuan tertentu berada pada tekanan atau hambatan stuktur sosial. Walaupun demikian, tetap saja ada relasi dialektik antara tindakan sosial individual terhadap perubahan yang terjadi pada stuktur sosial yang ada. Dalam analisanya di gambarkan bagaimana struktur sosial dengan nilai dan normanya memberikan batasan menganai mana yang boleh dan tidak untuk menentukan keinginan individu, selanjutnya individu pun mengkonfirmasi hal tersebut. Namun, sebagai makhluk kreatif, individu memiliki keuatan untuk melawan struktur sosial tersebut yang akan berpengaruh terhadap perubahan struktur tersebut untuk mengakomodir keinginan/interest yang dulu tidak diizinkan oleh struktur sosial.

Teori Pilihan Rasional

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa teori ini dipengaruhi oleh pemikiran ekonomi neo-klasik yang menjelaskan bahwa setiap individu memiliki daya nalar yang tinggi. Dalam artian tidak serta merta selalu berada dibawah tekanan struktur sosial. Bahkan teori ini mampu memberikan penjelasan mengenai perubahan sosial yang terjadi di setiap masa tertentu yang berdampak pada perubahan stuktural dan kultural. Menurut Coleman, salah seorang teoritis plihan rasional ternama bahwa setiap tindakan sosial seseorang bertujuan untuk mencapai hasil yang diinginkannya secata individual, hal inilah yang akhirnya membentuk nilai dan juga preferensi dari si aktor. Dengan kata lain, bahwa setiap individu tidak selalu memiliki tujuan dan orientasi yang sama, karena manusia adalah makhluk yang khas dan kreatif. Tindakan-tindakan sosial yang dilakukan oleh setiap aktor pada dasarnya ditujukan untuk memperbesar manfaat yang diterimanya. Sehingga dalam teori ini ada dua kata kunci, yaitu; para aktor dan juga sumberdaya.

Dalam upaya menghubungkan wilayah mikro dengan ranah makro,  Coleman mengenalkan konsep tindakan bersama. Tindakan bersama yaitu kumpulan dari setiap tindakan individu yang pada akhirnya menciptakan keseimbangan. Keseimbangan itu tercipta karena adanya saling kontrol atas tindakan-tindakan individu yang ada dalam suatu kelompok sosial. Coleman mencontohkan bagaimana di dalam demokrasi voting yang merupakan kumpulan dari keinginan masing-masing individu pada akhirnya diputuskan suara terbanyaklah yang akhirnya ditetapkan sebagai tindakan bersama. Walaupun begitu, selalu ada ruang perubahan terutama jika mengandalkan rasionalitas yang dapat diterima oleh akal sehat setiap anggota kelompok sosial, maka tak dapat dipeungkiri perubahan sosial akan terjadi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: